- Hacker mencuri lebih dari 740.000 informasi rahasia dari Basis Data Departemen Pendidikan dan basis data polisi.
- Informasi yang dicuri termasuk nama, alamat email, nomor telepon, dan jabatan orang tua, staf, pejabat universitas, dan anggota polisi.
- Kelompok hacking yang tidak diketahui identitasnya bernama ExfilSquad mengaku tanggung jawab atas serangan ini dan meminta pembayaran sebagai tawaran untuk menyimpan semua data tersebut.
Latar Belakang Serangan Cyber
Departemen Pendidikan (DfE) dan basis data polisi telah menjadi target serangan cyber, menghasilkan pencurian lebih dari 740.000 informasi rahasia. Pelanggaran ini telah memperlihatkan detail orang tua, staf anggota, pejabat universitas, pemimpin sekolah senior, dan bahkan beberapa anggota masyarakat.

Basis data portal bantuan DfE diperkosa terlebih dahulu, dengan pihak lain mengambil sejumlah informasi yang termasuk detail kontak pribadi seperti nama lengkap, alamat email, nomor telepon, dan jabatan. Basis data Turing yang digunakan untuk manajemen siswa internasional juga mengalami pelanggaran lebih kecil dengan mencuri data sensitif yang sama.
Demi Pembebasan Data
ExfilSquad, kelompok hacking yang tidak diketahui identitasnya, telah menyatakan tanggung jawab atas serangan ini dan menunjukkan contoh-contoh data yang dicuri di situs web mereka untuk membebaskan semua informasi tersebut. Berdasarkan laporan, penjahat cyber ini mencari pembayaran dari DfE dan basis data hukum nasional polisi (PNLD) sebagai tawaran untuk menyimpan semua data.
Foto layar yang diperoleh oleh The Guardian menunjukkan bahwa ExfilSquad meminta pembayaran tidak tentu jumlah dari 14 korban hacking termasuk DfE. Mereka menyatakan bahwa hanya sampel kecil data yang telah dirilis secara publik, tetapi mengancam akan menerbitkan semua data tersebut jika pembayaran tidak dibayarkan. Pesan mereka menekankan bahwa permintaan finansial ini akan relatif kecil dibandingkan dengan biaya hukum potensial.
Impak dan Langkah Keamanan
Pencurian basis data hukum nasional polisi, yang menyimpan informasi tentang anggota polisi dan individu dalam peran pengadilan kriminal, dianggap kurang berbahaya oleh ahli keamanan. Data yang dicuri termasuk kata sandi untuk mengakses situs tersebut tetapi tidak mencakup detail operasional sensitif.
Sumber senior yang mengetahui tentang kebocoran PNLD menyatakan bahwa meskipun risikonya rendah, ini menjadi masalah jika individu menggunakan kata sandi yang sama di beberapa sistem. DfE telah menyatakan bahwa tindakan cepat telah diambil untuk mengendalikan insiden tersebut dan menekankan bahwa tidak ada data selain informasi kontak pelayanan pelanggan yang diakses.
Pemerintah mengakui partisipasinya dengan National Cyber Security Centre dan National Crime Agency dalam penyelesaian pencurian. Keduanya telah melaporkan insiden ini ke Information Commissioner's Office, pengawas data UK.
Sumber: The Guardian






