Penuntutan Kasus Kecelakaan Seksual Militer AS di Inggris Menyebabkan Kekhawatiran
- Lembaga militer AS yang disangka melakukan kekerasan seksual di tanah Inggris sering dituntut dengan pelanggaran yang lebih ringan, seperti pemerkosaan seksual.
- Perbedaan ini menyebabkan trauma mendalam bagi korban yang menemui proses hukum yang asing baginya.
- Eksperter mengatakan bahwa proses tersebut memisahkan dan merendahkan korban, membahagiakan penderitaan mereka.
Tidak Sama Dalam Penuntutan: Trend MenakutkanDalam kasus tingkat tinggi, anggota militer AS yang disangka melakukan pemerkosaan di tanah Inggris sering dituntut dengan pelanggaran yang lebih ringan oleh pengadilan militer mereka. Eksperter mengatakan bahwa perbedaan ini memperdalam dampak traumatik bagi korban setelah putusan dikeluarkan. Dalam satu kasus, Kapten Jacob Wulfson disebut-sebut telah menipu dan menanggalkan seseorang selama date di apartemennya sebelum mengintimidasi vagina korban tanpa izin. Meskipun seriusnya tuduhan, dia dinyatakan tidak bersalah atas pemerkosaan seksual, tetapi terpaksa memikul vonis penahanan enam bulan.

Dampak Traumatik bagi KorbanEksperter menekankan bahwa perbedaan hukum ini menyebabkan trauma yang signifikan bagi korban. Kelly Johnson, dosen senior ilmu kriminologi di Universitas Glasgow, mengatakan bahwa sistem hukum dapat terlihat memisahkan dan merendahkan korban yang menemui proses yang asing baginya. Steele berkomentar: “Terminologi hukum bukan hanya latihan teknis; ia membentuk cara korban dipahami.” Dia menjelaskan bahwa dia harus menerangkan kembali perbedaan antara istilah seperti ‘pemerkosaan’ dan ‘pemerkosaan seksual’ berulang kali, hal yang melelahkan dan merenjatkan.
Reformasi Hukum MiliterPerbedaan dalam definisi hukum terakar pada Undang-Undang Militer Terpadu (UCMJ) yang mendefinisikan pemerkosaan lebih sempit daripada hukum Inggris. Don Christensen, yang pernah menjabat sebagai jaksa penuntut utama untuk Angkatan Udara AS antara 2010 dan 2014, berkomentar: “Inti datang dari tempat baik, tapi mereka tidak berbicara dengan banyak dari kita yang memproses kasus.” Katrin Hohl, profesor di Universitas London, menyatakan bahwa masalah lebih luas adalah struktural. Dia berkomentar: “Mereka memilih tuduhan dan kemudian bisa memilih anggota juri, hal yang sepenuhnya tidak adil secara struktur.
Konsekuensi bagi KorbanKonsekuensinya untuk korban sangat berat, sering mengakibatkan traumatik kembali. Johnson menjelaskan: “Korban yang merasa tidak dianggap atau tidak ditangani dengan hormat dapat mengalami trauma lebih lanjut.” Rachel VanLandingham, dosen hukum dan mantan jaksa penuntut Angkatan Udara AS, menyoroti ketidakadilan struktural dari sistem, yang dirancang secara utama sebagai alat untuk disiplin ketat bukan adil.
Istilah Sementara Masih Menyebabkan MasalahIstilah ini menunjukkan perlunya reformasi dalam bagaimana sistem hukum militer menghadapi kasus pemerkosaan seksual. Sebelum adanya reformasi tersebut, korban akan terus menghadapi tantangan besar untuk menjalani proses hukum yang asing dan mungkin berbahaya.
Sumber: The Guardian






