- ASIA telah mengintervensi pasar riel untuk kali pertama dalam hampir 30 tahun.
- Pemerintah dan ekonomi Jepang menghadapi tekanan yang signifikan dari mata uang yang melemah, termasuk biaya impor yang lebih tinggi dan inflasi.
- Analisis menyarankan bahwa intervensi Trump bertujuan untuk mengurangi penjualan surat utang Jepang ke AS.
Aksi dan Intervensi Kunci
ASIA telah mengambil tindakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dengan mengintervensi pasar riel, ini adalah intervensi pertama dalam hampir 30 tahun. Tindakan ini dikordinasikan dengan pemerintah Jepang untuk stabilisasi nilai mata uang, yang telah mengalami penurunan drastis menjadi level terendahnya dalam 40 tahun.
Motif Penurunan Riel

Penguatan riel memiliki beberapa faktor yang mendukung. Meski Jepang berusaha sejak 2022 untuk menghentikan penurunan, mata uang ini terus mencapai level baru rendah karena penjualan investor dan peristiwa global seperti gangguan impor energi dari Timur Tengah. Situasi diperparah oleh tingkat bunga yang rendah yang dipertahankan Bank of Japan (BOJ) dan tinggi utang pemerintah, yang sekarang melebihi 200% dari PDB—di antara tertinggi di G20.
Motivasi Kabinet Trump
Tindakan untuk mendukung riel ini dipercaya dimulai selama pertemuan kabinet. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menunjukkan bahwa 'Jepang telah sangat baik,' yang mungkin merujuk pada hubungan mereka, dengan pengecualian Pearl Harbor. Tindakan ini bertujuan untuk memperkuat stabilitas ekonomi Jepang dan potensial mengurangi dampak pada ekonomi AS dengan menghentikan penjualan surat utang Jepang. Analisis menyarankan bahwa ini bisa membantu AS secara tidak langsung menghindari biaya pinjaman yang lebih mahal.
Dampak pada Kebijakan Jepang
Menanggapi tekanan tersebut, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah memulai rangkaian kebijakan yang bertujuan untuk pemulihan ekonomi dan stabilitas. Ini termasuk mengurangi pajak penjualan sementara pada makanan untuk meredakan beban biaya hidup dan berinvestasi miliaran dolar di sektor-sektor ekonomi berbeda. Namun, kekhawatiran tentang pembiayaan inisiatif ini dengan utang pemerintah tinggi telah menimbulkan ketakutan bahwa mereka bisa mengganggu stabilitas ekonomi Jepang.
Konteks Sejarah
Intervensi AS ini teringat pada langkah serupa tahun lalu, ketika AS mendukung mata uang Argentina untuk memastikan sukses reformasi ekonominya. Beberapa analisis mengasumsikan bahwa Trump melihat Sanae Takaichi sebagai aliyah ideologi, seperti Presiden Argentina Javier Milei, yang bisa menjelaskan penjadwalan dan sifat intervensi ini.
Secara keseluruhan, koordinasi antara AS dan Jepang menunjukkan keterikatan kompleks antara ekonomi global, terutama pada masa ketidakstabilan ekonomi. Meski tindakan ini dianggap mendukung tujuan ekonomi kedua negara, ia juga memunculkan pertanyaan tentang motivasi politik dan implikasi jangka panjang untuk hubungan finansial internasional.
Sumber: The Guardian






