- Akademisi sastra Cambridge Sarah Dillon menranskripsikan cerita pendek Alan Turing “Pryce’s Buoy”, yang mengungkapkan sosok pria yang permainan, lucu, dan penuh petualangan seksual.
- Karya ini memandang ulang gambaran populer dari Turing sebagai tokoh matematikawan yang terisolasi dan tidak memiliki humor, menunjukkan bahwa dia memiliki karakter lebih kompleks.
- Dillon berpendapat bahwa penulisan Turing mencerminkan pengaruh sastra idola dan hidup pribadinya, memberikan perspektif baru tentang karakternya.
Membongkar Sisi Baru dari Alan Turing
Dalam analisis revolusioner, Sarah Dillon, profesor sastra sastra Inggris di Universitas Cambridge, menranskripsikan dan mempelajari cerita pendek yang sebelumnya terabaikan oleh Alan Turing. Cerita berjudul “Pryce’s Buoy” ini memberikan wawasan tentang kehidupan pribadi salah satu figur paling berpengaruh dalam perkembangan komputer.

Cerita yang ditulis sekitar waktu penangkapan Turing atas tuduhan menindas secara kasar, menggambarkan gambaran hidup seseorang yang jauh dari tokoh matematikawan yang terisolasi dan tidak memiliki humor seperti yang sering di gambarkan. Dengan naratif yang penuh sensasi, cerita ini menyoroti sisi permainan Turing, apresiasinya terhadap sastra, dan kebukaannya tentang seksualitasnya.
Dillon menyatakan bahwa cerita tersebut dipengaruhi oleh tokoh-tokoh sastra idola Alan Turing, khususnya Angus Wilson. Karya pendek ini menunjukkan bagaimana Turing menggunakan penulisan untuk bereksplorasi tema kepastian dan potensi pertemuan seksual dengan pekerja kelas bawah. Hal ini menunjukkan sisi dari Turing yang mungkin lebih sadar sosial dan terbuka dibandingkan yang terpikir sebelumnya.
Mencerminkan Persepsi Populer
Dilengkapi dengan Dillon, film “The Imitation Game” meskipun popularisasi penemuan Turing, telah menerapkannya sebagai tokoh yang terisolasi dan tidak memiliki humor. Penelitian ini baru menghadirkan wajah baru dari kehidupan pribadinya untuk memandang ulang stereotype tersebut dan menyoroti sisi-sisi karakter yang lebih multilateral. Dengan mempelajari cerita pendek ini, Dillon berharap untuk merubah pemahaman publik tentang Alan Turing di luar batas sempit dari genious logis yang terisolasi.
Apakah Selanjutnya
Ambisius implikasi penelitian ini melampaui lingkup akademis. Ia dapat mempengaruhi bagaimana Turing diingat dan dipuji dalam budaya populer. Seiring upaya terus berlanjut untuk memperbaiki ketidakadilan historis yang dialami oleh individu LGBTQ+, seperti penghukuman sendiri yang dialami oleh Turing, kehidupan pribadinya memberi ingatan tajam tentang keberanian dan humanisme dalam menghadapi kesulitan.
Sumber: The Guardian






