- Teknisi semakin mencari organisasi buruh karena kekhawatiran tentang keamanan pekerjaan dan penggunaan AI.
- Perusahaan seperti Meta dan Google DeepMind menghadapi upaya buruh dari karyawannya yang menentang penggunaan AI dalam peran militer atau pengawasan produktivitas.
- Upaya organisasi buruh telah tumbuh selama bertahun-tahun, termasuk di Kickstarter dan ZeniMax yang dimiliki Microsoft.
Latar Belakang Cerita
Teknologi telah lama dilihat sebagai tempat di mana buruh tidak dapat menemukan jalan. Namun, perkembangan terkini menunjukkan bahwa teknisi semakin mencari wakil buruh karena kekhawatiran tentang keamanan pekerjaan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Dalam bulan Mei, Meta mengumumkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran yang membuat beberapa karyawannya merasa bahwa hubungan antara karyawan dan manajemen telah berubah. Menurut karyawan Meta yang baru bergabung dalam upaya buruh, membentuk organisasi buruh adalah 'cara terbaik untuk benar-benar muncul sebagai pemilik, dan duduk di meja.' Pendapat ini mencerminkan kekhawatiran lebih luas di kalangan teknisi tentang bagaimana AI digunakan dalam perusahaan mereka.
Upaya Organisasi Buruh dalam Teknologi

Pendorongan organisasi buruh dalam teknologi telah berlangsung selama beberapa tahun. Organisasi seperti Alphabet Workers Union (AWU), yang mewakili lebih dari 1.400 karyawan Google, berada di depan upaya ini. Dalam setahun terakhir, partisipasi dalam tindakan kolektif seperti petisi pekerjaan aman AWU meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Emma Jackson, pemimpin program tingkat senior dan ketua komunikasi AWU, menegaskan bahwa dukungan buruh yang kuat menunjukkan kemampuan karyawan untuk bertindak dan memperkuat agensi mereka dalam era yang dipenuhi oleh AI. 'Dalam usia AI, pekerja perlu memiliki suara nyata di perusahaan kita lebih dari sebelumnya,' katanya.
Pengaruh AI terhadap Teknisi
Penggunaan AI di tempat kerja teknologi telah membawa perubahan signifikan bagi karyawan. Misalnya, John Chadfield, co-founder United Tech and Allied Workers (UTAW), organisasi buruh pertama dan satu-satunya untuk pekerja teknologi di Inggris, menyebutkan bahwa karyawan teknologi sekarang tidak merasa terlindungi atau tak tergantikan seperti dulu. 'Kamu mungkin dibayar tinggi, tapi kamu tetap karyawan,' ujarnya.
Karyawan juga menghadapi beban kerja yang lebih berat karena posisi kosong diisi oleh AI, sehingga 65% dari pekerja teknologi IT di universitas California melaporkan memikul lebih banyak pekerjaan. Meski begitu, hanya 22% merasa aman dalam pekerjaannya menurut survei terbaru.
Ketidakpastian Lebih Luas dan Kemenangan
Tren organisasi buruh di teknologi tidak terbatas pada perusahaan besar seperti Google atau Meta. Organisasi kecil seperti Kickstarter juga membentuk organisasi buruh untuk pekerja teknologi secara keseluruhan, dengan kontrak terbaru yang ditandatangani pada 2025 memberikan perlindungan dari penggunaan AI dan outsourcing.
Autumn Mitchell, tester kualitas yang dipecat oleh ZeniMax, menyebutkan bahwa adanya organisasi buruh berarti 'memiliki hak negosiasi atas isu seperti pemutusan hubungan kerja, hal yang lebih banyak dari apa yang sebagian besar orang bekerja dengan saat ini dalam pengembangan game.' Hal ini menunjukkan manfaat potensial yang dapat diberikan oleh organisasi buruh bagi pekerja teknologi.
Ketertarikan semakin besar di kalangan pegawai kantoran terhadap organisasi buruh mencerminkan pergeseran yang lebih luas. Pegawai teknologi yang sebelumnya menolak organisasi buruh mulai mengenali nilai yang mereka berikan dalam era di mana AI dan keamanan pekerjaan menjadi isu utama.
Kesimpulan
Tren semakin besar teknisi mencari organisasi buruh menandai perubahan signifikan dalam skenario industri teknologi. Seiring terusnya penggunaan AI, peran organisasi buruh dalam melindungi hak karyawan dan memastikan praktik yang adil akan menjadi semakin penting. Kesuksesan upaya buruh baru-baru ini menunjukkan bahwa bahkan posisi yang dianggap aman dapat mendapat manfaat dari negosiasi kolektif ketika kekhawatiran tentang keamanan pekerjaan dan penggunaan etis AI semakin meningkat.
Sumber: The Guardian






