Kritik Terhadap Datacenter di Luar Angkasa oleh Perusahaan Teknologi Atas Dampak Lingkungan
- Para ahli menegaskan bahwa datacenter di luar angkasa yang direncanakan oleh perusahaan teknologi bisa mengeluarkan polusi berbahaya yang akan merubah atmosfer Bumi dan 'catastrophic' bagi planet ini.
- Petisi baru meminta FCC untuk melakukan tinjauan terhadap dampak mereka, menyebutkan kekhawatiran lingkungan dan hukum.
- Ilmuwan khawatir akan kerusakan pada lapisan ozon dan gangguan ekologi lainnya.
Kehadiran Datacenter di Luar Angkasa sebagai Kekhawatiran Lingkungan
Datacenter di luar angkasa yang direncanakan oleh SpaceX, Blue Origin milik Jeff Bezos, dan perusahaan lainnya akan melepaskan tingkat polusi yang luar biasa sehingga bisa merubah atmosfer Bumi dan menjadi 'catastrophic' bagi planet ini, para ahli industri luar angkasa dan kelompok lingkungan mengingatkan dalam petisi baru yang meminta tinjauan terhadap dampak mereka. Perusahaan teknologi secara bersama-sama telah merencanakan jutaan 'orbital datacenter' dan mendorong pelaksanaan rencana yang membutuhkan persetujuan Komisioner Komunikasi Federal (FCC).

Petisi yang diserahkan kepada FCC oleh organisasi non-profit seperti Public Employees for Environmental Responsibility (Peer), Earthjustice, dan DarkSky International mengajukan penahanan atas izin baru untuk proyek-proyek ini. Kelompok-kelompok tersebut berpendapat bahwa rencana-rencana 'menginang hukum federal' dan tidak cukup memperhitungkan dampak lingkungan mereka.
Petisi menunjukkan bahwa perusahaan teknologi telah mendeskripsikan rencananya dalam hal-hal besar, namun gagal untuk melakukan inquiry terhadap dampak teknologi mereka terhadap lingkungan, ilmu pengetahuan, ekonomi, atau nilai-nilai lainnya. Steve Volz, mantan kepala National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), khawatir dengan isu-isu limbah yang akan berakhir di atmosfer dari satelit-satelit ini.
Risiko Lingkungan dan Kekhawatiran Hukum
Penggembangan satelit telah mengakibatkan peningkatan polusi dalam stratosfer Bumi. Peluncuran melahirkan berbagai emisi, termasuk karbon hitam, oksida nitrogen, karbon monoksida, oksida aluminium, gas klorin, dan mercuri. Satelit yang ditiadakan juga memperparah polusi ini dengan menaburkan logam ke bagian stratosfer yang bersih pada saat re-entry mereka.
Ilmuwan baru saja mulai memahami dampaknya dan ada kurangnya penelitian komprehensif tentang interaksi antara zat-zat polutan ini dengan zat-zat alami lain seperti asam sulfat aerosol. Potensi untuk merubah langit malam secara permanen dan kontribusi pada polusi cahaya telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pendukung lingkungan.
Petisi mengatakan bahwa Kongres memerlukan FCC untuk menentukan apakah 'kepentingan publik, kemudahan dan kebutuhan' akan terlayani oleh pemberian aplikasi satelit. Petisi juga menyatakan bahwa Undang-Undang Keberlanjutan Lingkungan Nasional (NEPA) harus digunakan untuk menilai dampak lingkungan, mengusulkan alternatif, memeriksa metode mitigasi dan menerbitkan risiko.
Meskipun demikian, perusahaan teknologi seperti SpaceX hanya merujuk minim terhadap resiko lingkungan dalam aplikasi FCC mereka. Petisi menutup dengan menyoroti pentingnya pertimbangan yang signifikan tentang konsekuensi lingkungan sebelum memberikan persetujuan kepada proyek-proyek ini.
Sumber: The Guardian






